Tangal 26 Desember 2004 menjadi tanggal yang sangat menyeramkan dalam hidupku. Dimana, pada tanggal tersebut hampir dari seluruh anggota keluarga besarku menjadi menjadi korban dalam amukan atau gulungan gelombang tsunami. Aku anak ke tiga dari empat bersaudara. Ayah dan ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil, kami berasal dari sebuah desa kecil di Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten pidie. Dengan kondisi yang tidak aman akibat konflik antara GAM dan TNI memaksa kami hijrah ke Aceh Besar, tepatnya di sebuah perumahan dekat dengan LP Kajhu Kecamatan Baitussalam. Berpindah dari kampung halaman bukan berarti hidup kami akan selalu aman.
Pada bulan Oktober tahun 2003, kami mendapatkan suatu cobaan yang sangat berat, ayahku ditangkap setelah beberapa anggota brimob melakukan penggrebekan di rumahku. Penggrebekan terjadi pukul 01.00 WIB. Disaat aku dan saudara-saudaraku sedang dalam kondisi tertidur lelap. saat penggrebekan, ayahku sedang memeriksa hasi ujian muridnya dengan ditemani oleh ibuku. Penggrebekan itu terjadi begitu cepat, sehingga kami tidak begitu jelas melihat saat ayah kami dibawa dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil panter. Ayahku ditangkap bersama seorang teman yang sudah lama tinggal di rumahku, ayahku menghilang bak ditelan bumi selama 10 hari, kami mulai meragukan keselamatannya.
Banyak kasus-kasus serupa yang terjadi, orang-orang yang diculik sangat sedikit harapan kembali dengan nyawa dikandung badan. Namun aku dan keluarga tetap berdoa dan optimis bahwa ayahku akan pulang dengan selamat. Seminggu setelah penculikan terjadi teman dari ayahku pulang dengan selamat, tiga hari setelah pemulangan teman ayahku, kami mendapatkan berita bahwa ayahku berada di Polres Pidie. Perasaan kami sangat senang saat mendengar kabar itu, kami langsung pulang ke Pidie untuk menjenguknya.
Ayahku dijatuhi hukuman selama satu tahun tiga bulan atas tuduhan keterlibatan dalam GAM. Menjalani masa tahanan selama satu bulan lebih di LP Sigli, ibuku mengurus surat kepindahan ayahku ke LP Keudah, Banda Aceh. Ayahku menghabiskan sisa masa tahanannya selama satu tahun lebih di LP Keudah sampai akhirnya bisa menghirup udara bebas pada tanggal 22 November 2004, kami merasa seperti orang yang paling bahagia pada saat itu. Betapa tidak, akhirnya kami bisa berkumpul lagi dengan ayah tercinta. Dua minggu setelah kebebasan, ayah beserta ibuku membeli rumah baru untuk ditempati.
Budaya atau adat Aceh adalah mengadakan peusijuk (kanduri) rumah baru yang di tempati. Tanggal dan hari yang bagus telah ditentukan oleh Teungku yang akan melakukan peusijuk. Hari minggu 26 Desember 2004 adalah hari yang telah disetujui oleh keluargaku untuk melakukan peusijuk.
Sabtu sore tanggal 25 Desember 2004, keluarga besarku yang berasal dari kampung tiba untuk melaksanakan dan menghadiri acara peusijuk yang akan berlangsung besok, untuk mengisi kekosongan waktu di sore itu keluargaku bercanda gurau agar rasa capek setelah perjalanan jauh dari kampung terlepaskan. Tanpa disadari hari sudah mulai gelap, mungkin karna keasyikan bercanda ria jadi akan lupa akan waktu yang telah terlewatkan.
Keesokan paginya , 26 Desember 2004, sekitar pukul 07.30 aku mengajak sepupuku jalan-jalan mengelilingi komplek, sementara yang lain sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara nanti. Sedang asyiknya berkeliling, tiba-tiba tanah berguncang, tiang-tiang listrik bergoyang kekanan kekiri seolah-olah sedang menari dan air got pun berhamburan ke jalan. Aku mendengar teriakan seorang ibu yang keluar dari rumahnya, dia meneriaki ”gempa…gempa…gempa…” lalu semua warga pun ikut keluar rumah karna takut dan panik. Pandanganku terfokus pada seorang itu yang posisinya duduk di tanah dengan tatapan kosongnya ibu itu tak henti-hentinya mengucapkan “LailahaillAllah” akupun menjadi takut, perasaanku menjadi tak enak. Kemudian aku mengajak sepupuku untuk pulang.
Setibanya kami dirumah seluruh anggota keluargaku juga ikut keluar rumah, mereka juga tak henti-hentinya mengucapkan “LailahaillAllah”. Lalu tiba seorang teman ayahku memberi tahu kepada kami bahwa ada ruko yang roboh rata dengan tanah di simpang jalan utama. Dengan cepat ayahku mengambil motor dan mengajak abangku untuk melihat ruko itu. 15 menit setelah kepergian ayahku, tiba-tiba dia kembali dan berteriak “ie laot di ek… ie laot di ek…(air laut naik… air laut naik…) sontak seluruh keluargaku lari kejalan arah Lambaro. Sementara ayahku memarkirkan motor di rumah aku langsung memeluk ayahku kemudian kami lari mengejar keluarga kami yang terlebih dahulu lari. Sesampai di pertigaan ayahku berhenti dan memanggil “Farah… Farah… Farah”(nama adikku), karna sudah kejauhan dan riuh dengan suara tapak warga yang ingin menyelamatkan diri jadi dia tidak mendengarnya.
Sementara itu 300 meter dibelakang kami air bah sudah mulai Nampak mengejar kami, kami langsung berlari ketempat yang ingin dituju tepat 100 meter didepan kami rumah lantai dua yang belum siap dibangun. Kami langsung menaiki tangga untuk mencapai lantai dua rumah tersebut.
Sesampai dilantai dua gelombang besar langsung menghantam rumah yang kami naiki. Rumah tersebut tidak memiliki dinding di lantai dua. Di lantai dua rumah ini hanya ada besi-besi panjang yang menjulang ke atas. Sementara itu dibelakang rumah ini juga ada rumah yang sedang di dibangun kebetulan rumah dibelakang sudah hampir rampung. Ayahku mendorongku untuk menaiki rumah tersebut sampai ke atas atap. Atap rumah sudah dapat ku raih kendalanya karna aku masih kecil kekuatanku untuk menjebol seng belum cukup kuat.
Sesaat setelah aku sampai ke atas tiba-tiba gelombang kedua datang, ayahku langsung memanjat untuk menyusulku yang ada di atas dan beberapa orang lain pun juga ikot menaiki rumah tersebut hingga ke atap. Dengan tenaga yang kuat gelombang ke dua menghantam rumah yang kami naiki pertama, karna tidak memiliki dinding di lantai dua air melewati lantai dua rumah tersebut dengan ketinggian satu meter dia atas lantai dua. Beberapa orang yang selamat dari gelombang pertama hanyut akibat air bah dari gelombang kedua yang melewati lantai dua tersebut, kecuali kami yang sudah menaiki rumah yang dibelakangnya.
Kami terperangkap diantara seng dan air, sampai seseorang berhasil membuka seng dan kami yang tersisa 12 orang dari sekitar 50 orang yang selamat dari gelombang pertama langsung naik ke atas atap rumah. Selama berjam-jam kami menunggu waktu kapan airnya surut, sekitar jam 14.00 akhirnya air pun surut juga. Lantas kami lansung bergerak cepat untuk turun mengarungi genangan air sisa gelombang untuk mencari daratan. Selama 30 menit mengarungi genangan sisa gelombang akhirnya kami menemukan daratan, tepatnya kami sampai di Lambaro angan. Kemudian kami berpisah aku dan ayahku memilih pergi ke tempat teman ayahku yang ada di cot keueung untuk mengantarku ke sana. Sesampai di sana aku ditinggal ayahku yang ingin mencari jenazah dari keluargaku.
Setelah beberapa hari mencari, tak satupun jenazah keluargaku yang ditemukan. Akhirnya keluarga dari kampong menjemput kami. Aku ikut dengan mereka untuk pulang ke kampung, sementara ayahku masih berusaha mencari sekitar 39 orang anggota keluarga kami. Setelah empat hari setelah kepulanganku ke kampong akhirnya ayahku menyusul ke kampung, dia sudah menyerah dan pasrah menyerahkannya semua kepada ALLAH.
Hingga saat ini, tsunami sudah hampir memasuki tahun ke 10. Dari 41 orang anggota keluarga 5 orang yang selamat, termasuk aku dan ayahku serta 3 orang saudaraku, sedangkan 36 anggota keluargaku yang lain tidak diketemukan (hilang).
Sementara itu 300 meter dibelakang kami air bah sudah mulai Nampak mengejar kami, kami langsung berlari ketempat yang ingin dituju tepat 100 meter didepan kami rumah lantai dua yang belum siap dibangun. Kami langsung menaiki tangga untuk mencapai lantai dua rumah tersebut.
Sesampai dilantai dua gelombang besar langsung menghantam rumah yang kami naiki. Rumah tersebut tidak memiliki dinding di lantai dua. Di lantai dua rumah ini hanya ada besi-besi panjang yang menjulang ke atas. Sementara itu dibelakang rumah ini juga ada rumah yang sedang di dibangun kebetulan rumah dibelakang sudah hampir rampung. Ayahku mendorongku untuk menaiki rumah tersebut sampai ke atas atap. Atap rumah sudah dapat ku raih kendalanya karna aku masih kecil kekuatanku untuk menjebol seng belum cukup kuat.
Sesaat setelah aku sampai ke atas tiba-tiba gelombang kedua datang, ayahku langsung memanjat untuk menyusulku yang ada di atas dan beberapa orang lain pun juga ikot menaiki rumah tersebut hingga ke atap. Dengan tenaga yang kuat gelombang ke dua menghantam rumah yang kami naiki pertama, karna tidak memiliki dinding di lantai dua air melewati lantai dua rumah tersebut dengan ketinggian satu meter dia atas lantai dua. Beberapa orang yang selamat dari gelombang pertama hanyut akibat air bah dari gelombang kedua yang melewati lantai dua tersebut, kecuali kami yang sudah menaiki rumah yang dibelakangnya.
Kami terperangkap diantara seng dan air, sampai seseorang berhasil membuka seng dan kami yang tersisa 12 orang dari sekitar 50 orang yang selamat dari gelombang pertama langsung naik ke atas atap rumah. Selama berjam-jam kami menunggu waktu kapan airnya surut, sekitar jam 14.00 akhirnya air pun surut juga. Lantas kami lansung bergerak cepat untuk turun mengarungi genangan air sisa gelombang untuk mencari daratan. Selama 30 menit mengarungi genangan sisa gelombang akhirnya kami menemukan daratan, tepatnya kami sampai di Lambaro angan. Kemudian kami berpisah aku dan ayahku memilih pergi ke tempat teman ayahku yang ada di cot keueung untuk mengantarku ke sana. Sesampai di sana aku ditinggal ayahku yang ingin mencari jenazah dari keluargaku.
Setelah beberapa hari mencari, tak satupun jenazah keluargaku yang ditemukan. Akhirnya keluarga dari kampong menjemput kami. Aku ikut dengan mereka untuk pulang ke kampung, sementara ayahku masih berusaha mencari sekitar 39 orang anggota keluarga kami. Setelah empat hari setelah kepulanganku ke kampong akhirnya ayahku menyusul ke kampung, dia sudah menyerah dan pasrah menyerahkannya semua kepada ALLAH.
Hingga saat ini, tsunami sudah hampir memasuki tahun ke 10. Dari 41 orang anggota keluarga 5 orang yang selamat, termasuk aku dan ayahku serta 3 orang saudaraku, sedangkan 36 anggota keluargaku yang lain tidak diketemukan (hilang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar