Lamreh dinyatakan sebagai bekas dari tapak Kerajaan Lamuri yang terkenal di pesisir utara pulau Sumatera. Berbagai laporan para penjelajah dan pedagang Arab-Persia pada kurun pertama hijrah telah menyebutkan Lamuri yang diduga kuat terletak di pantai Aceh.
Banyak bukti-bukti kuat yang telah dijumpai. Antara lain, terdapat nisan-nisan dari raja-raja Lamuri dan petinggi-petinggi dari kerajaan tersebut.Bukti lainnya adalah nama Lamuri yang disebutkan sangat terang pada batu nisan Sultan Munawwar Syah di Pante Raja, Pidie Jaya. Penyebutan Lamuri pada nisan Sultan Munawwar Syah yang merupakan anak dari Sultan Muhammad Syah Lamuri yang makamnya terletak di Kuta Leubok, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar menguatkan bukti bahwa Kerajaan Lamuri adalah Pusat Kerajaan pada masa itu.
Masih banyak tinggalan sejarah yang terdapat di kawasan Lamreh dan Kuta Leubok. Tinggalan-tinggalan sejarah itu menunjukan sacara tegas adanya pemerintahan Islam yang berpusat di Lamreh dan Kuta Leubok pada masa itu. Keletakan pusat kota Kerajaan pada sebuah teluk laut menandakan bahwa peran penting kota ini dalam sejarah maritim dunia.
Nisan Malik 'Alawuddin. Seorang raja besar Kerajaan Lamuri |sumber:
Nisan Qadhi Shadrul Islam Is'mail. Seorang ulama besar Kerajaan Lamuri
Nisan Dha'if Sirajul Muluk. Sirajul Muluk berarti suluh para raja |sumber: misykah.com
Nisan Syaikh Zainuddin. Seorang ulama besar Kerajaan Lamuri

Lamuri telah meninggalkan suatu kebudayaan dan peradaban yang istimewa dalam sejarah Aceh. Sebagian dari peninggalannya masih dapat disaksikan sampai hari ini sekalipun sudah dalam kondisi yang memprihatinkan. Oleh karen itu, kita sebagai penerus bangsa harus bisa melestarikan kawasan peninggalan sejarah Lamuri di Lamreh dan Kuta Leubok sampai ke anak cucu kita.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar